Ujian Akhir Semester Ekologi Hewan
UJIAN AKHIR SEMESTER
EKOLOGI HEWAN
The Value of Migration Information
for Conservation Prioritization of
Sea Turtles in The Mediterranean
Ditujukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah Ekologi Hewan yang diampu oleh
Puguh Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D
& Alanindra Saputra, S.Si, M.Sc

Disusun Oleh :
Nama : Dian Fajarwati S
NIM : K4313027
Kelas : A
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)
EKOLOGI HEWAN
Analisis
artikel jurnal
a)
Bibliografi artikel
Mazor, T., Beger, M., Mcgowan, J., Possingham, H. P., &
Kark, S. (2016). The value of migration information for conservation
prioritization of sea turtles in the Mediterranean. Global Ecology and
Biogeography, 25(5), 540–552. 1466-82381466-822X.http://doi.org/10.1111/geb.12434
b)
Summary
(ringkasan)
artikel
Penelitian ini membahas terkait dengan informasi
penting yang digunakan untuk konservasi sea
turtle di Laut Mediterania. Menuurut IUCN Red List, sea turtle atau
lebih spesifiknya spesies Caretta caretta
(Penyu Tempayan) dengan status konservasi rentan punah (Vunarable). Vulnerable
(VU; Rentan) adalah status konservasi yang diberikan kepada spesies yang sedang
menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang. Konservasi
biasanya mengeluarkan banyak biaya dan juga waktu, oleh karena itu dilakukan
evaluasi terhadap managemen konservasi sea
turtle, supaya spesies Caretta
caretta tetap eksis di alam. Dalam
melakukan konservasi terhadap penyu tempayan (Caretta caretta) di Laut mediterania secara spasial diperlukan
beberapa informasi penting, seperti 1) luas diatribusi, 2) beberapa jenis
habitat yang sering diguunakan untuk mencari makan, bersarang, interesting habiat, 3) informasi terkait
dengan pola mark recapture, dan 4) rute
perjalanan migrasi yang dipantau dengan sebuah teknologi yang memungkinan
pengukuran jarak jauh. (Mazor, Beger,
McGowan , & Possingham, 2016) .
Caretta caretta merupakan spesies dengan persyaratan kemampuan hidup
di darat dan di laut. Habitat darat biasanya digunakan penyu betina untuk
meletakan telur-telurnya, habitat laut merupakan habitat untuk kawin dna
mencari makan. Penyu juga melakukan migrasi ke beberapa daerah. Berikut
merupakan tipe habitat Caretta caretta :

Gambar 1. a)
tiga tipe habitat Caretta caretta : naesting habitat, interesting habitat, dan
habitat mencari makan, b) peta laut mediterania dibagi dengan
geografis sub daerah sebagai rute perjalanan dari Caretta careta (untuk lokasi
tidak dipublikasikan dalam jurnal)
Daerah penelitian yang digunakan adalah seluruh Laut
Mediterania dengan kedalaman 1000 m, wilayah kajian termasuk daerah berpasir
sebagai temat bersarang. Berikut merupakan penjelasan dari tiap habitat penyu
guna keperluan konservasi :
a.
Nesting Hanitat
Nesting habitat atau
habitat bersarang, dengan mengambil 131 lokasi tempat besarang penyu betina
yang merupakan rumah awal atau tempat dimana penyu dilahirkan oleh induknya.
Untuk mengetahui distribusi dari penyu maka dilakukan kajian terkait dengan nesting habitat dengan wilayah pemetakan
untuk konservasi 10 km dari masing-masing situs tempat bersarang dari Caretta caretta.
b.
Internesting Habitat
Daerah
neritrik yang digunakan sebagai habitat penting penyu betna selama meletakan
telurnya dan merupakan daerah dimana penyu-penyu kecil membuat jalan mereka
setelah mereka menetas. Pada studi konservasi digunakan sekitar 10 km dari
tempat bersarangnya.
c.
Foragging Habitat
Peneliti
memetakan habitat mencari makan dari Caretta
caretta menggunakan software MaxNet versi 3.3.3k. Peta habitat mencari
makan konsisten dengan temuan studi local identifikasi mencari makan dari Caretta caretta. Foragging habitat dari Ceratta ceratta berkaitan erat dengan foraging strategies. Strategi dalam
mencari makan Ceratta ceratta dipengaruhi
oleh musim dan juga suhu.
Tabel 1. Migrasi dan strategi mencari makan
menggunakan strategi satellite track
|
Kategori
|
Tipe
|
Deskripsi
|
|
Migration strategy
|
Post Nesting
|
Pepindahan dari pantai tempat
meletakan telur menuju area mencari makan terjadi setelah nesting
|
|
Inter Foragging
|
Dari utara ke selatan atau dari timur
ke barat) dan dari selatan ke utara atau dari timur ke barat. Perpindahan
|
|
|
Breeding
|
Perpindahan dari habitat mencari
makan menuju nesting habitat
|
|
|
Annual
|
1)
Strategi menurut musim : post nesting
plus inter foraging segments; 2) year round foraging strategy; hanya post nesting segment
|
|
|
Foragging strategy
|
Seasonal Large Scale
|
Panjang. Berkelanjutan gerakan dari
selatan utara atau utara ke selatan berdasarkan suhu.
|
|
Seaseonal small scale
|
Musiman. Pergeseran bertahap skala
kecil dari barat ke timur dalam rangka menanggapi perubahan suhu.
|
|
|
Year round
|
Loggerheads. Sepanjang tahun di daerah mencari
makan terjadi setiap bulan sepanjang tahun.
|
(Griffin, D. B, et
al, 2013)
Untuk dapat melakukan konservasi yang baik
dibutuhkan informasi terkait dengan kebiasaan Caretta caretta dalam bermigrasi. Informasi migrasi dari Caretta caretta peneliti mengumulkan
data pelacakan menggunakan satelit yang tersedia dalam http://www.eurobis.org/ dan seaturtle.org,
ditemukan 34 rute perjalanan di Laut Mediterania yang digunakan dalam studi
konservasi. Data pelacakan rute sangat dibutuhkan dalam menetapkan wilayah
konservasi dari Ceratta ceratta di
wilayah ini. Ceratta ceratta bermigrasi
dengan memanfaatkan medan magnet untuk menganalisa garus lintang dan garis
bujur. Ceratta ceratta mampu
melakukan migrasi sejauh 3000 km.
Nilai Informasi
Penyu untuk Keperluan Konservasi. Dalam
melakukan konservasi habitat Ceratta
ceratta dilakukan berbagai pendekatan gabungan, dimulai dari pendekatan
rentang, habitat, mark recapture, dan
lintasan. Dari 4 pendekatan tersebut kemudian dibandingkan dengan menghitung korelasi
menggunakan rumus spearman antara output frekuensi seleksi dari Maxan dengan
pemetaan prioritas konservasi spasial yang dihasilkan. Frekuensi di lihat dari
nilai penting. Semakin tinggi nilai penting maka menunjukan bahwa spesies
tersebut memiliki kebergunaan dalam penyeimbangan ekosistem pada habitatnya,
kemudian melakukan ulangan sebanyak 10 kali.

Gambar 2. Nilai yang berasal dari
pengukuran telementeri Ceratta ceratta, kemudian ditentukann kuadrat 10 km x 10
km
Jalur
migrasi memberikan informasi penting guna mengidentifikasi habitat penyu laut
(Gambar 3).
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Gambar 3. Peta rencana observasi di
Laut Mediterania dengan meningkatnya kompleksitas migrasu penyu, pendekatan 1:
rentang; pendekatan 2 : habitat (nesting, inter nesting dan foraging); pendekatan
3 : mark & recapture; pendekatan 4 : 34 Jalur migrasi.
Penelitian
menggabungkan antara habitat kritis dengan informasi migrasi guna perencanaan
konservasi. Spesies informasi terbaik di diperoleh ketika memasukan seluruh
rute perjalanan migrasi Pendekatan (4-rute migrasi) dibandingkan dengan
informasi habitat kritis (pada pendekatan (2-habitat), rentang spesies
pendekatan (1-rentang), menangkap dan menandai kembali pendekatan 3 (mark & recapture).
Penelitian
ini berhasil mengumpulkan data rute migrasi penyu laut dalam penelitian dan
ditemukan bahwa beberapa rute migrasi sangat berbeda secara substansial dapat
mengubah situs prioritas konservasi dan membantu menangkap batas spasial (siklus
hidup migrasi penyu laut) (Gambar 4).

Gambar 4. Dendrogram perbandingan perbedaan metode
matriks dengan peningkatan rute migrasi. Setiap node pada dendrogram merupakan
jumlah rute migrasi (0, 5, 10, 15, 20, 25, 30, dan 34) yang digunakan dalam
analisis dan suratpengulangan. Setiap nomer track dijalankan 10 kali yang
diwakili oleh huruf a-j. Empat kelompok diidentifikasi dan dilambangkan dengan
huruf besar A, B, C, D. Perpercahan utama terjadi antara analisis tanpa rute
perjalanan grup A & B.
Metode
konservasi penyu yang baru telah ditemukan pada penelitian ini dan peneliti
menyarankan untuk konservai masa depan terkait dengan penyu laut dapat menggabungkan
anatara habitat dengan telemetri data dalam jumlah rute yang heterogen diseluruh
wilayah studi yang dibutuhkan (Gambar 4). Pada penelitian hanya dilakukan di
Laut Mediterania dengan 34 rute migrasi. Penelitian dapat dilakukan dilokasi
yang lebih luas. Rencana konservasi dalam penelitian ini berusaha menggabungkan
semua studi telemeteri yang sebanding dengan data yang konsisten untuk habitat
penyu di Mediterania dan pemodelan distribusi spesies yang kuat serta terkait
dengan biaya tindakan observasi yang lebih hemat.
Jadi
secara singkat penelitian ini menyoroti nilai habitat dan informasi migrasi dalam
rangka perbaikan metode konservasi sebelumnya. Perbaikan konservasi dilakukan
dengan mengevaluasi kelemahan metode sebelumnya kemudian memeperbaiki metode
tersebut dengan lebih memperhatikan aspek waktu, tenaga, dan biaya yang
dikeluarkan. Metode konservasi yang baru dilakukan dengan menggambungkan
informasi telemetrike dalam rencana konservasi dalam hal migrasi spesies. Konservasi
dilakukan untuk mengurangi kematian penyu laut pada seluruh siklus hidupnya. Metode
ini dilakukan dengan menggunakan data spasial atau penggalian informasi dari
yang sudah ada dapat membantu memberikan informasi secara cepat guna
perencanaan konservasi. Konservasi habitat diharapkan mampu membantu spesies
penyu laut untuk tetap eksis di dunia.
c)
Komentar terhadap isi artikel
Jurnal The Value of Migration Information for Conservation Prioritization of Sea Turtles
in The Mediterranean merpakan jurnal yang baik, karena dalam penulisan latar
belakang hingga kesimpulan runtut dan urut, kemudian antar bagiannya saling berkaitan satu dengan
yang lainnya. Metode penelitian dijelasakn cukup rinci sehingga pembaca mampu
membayangkan langkah-langkah yang di lakukan oleh peneliti. Hasil penelitian
disajikan dengan baik walaupun pada jurnal ini belum dilakukan penelitian dan masih
berupa desain konservasi habitat Ceratta
ceratta, namun sudah dapat dibayangkan akan dibawa kemana konservasi
habitat Ceratta ceratta dan cara
pengembangan metode konservasi disampaikan dengan rinci guna mengevaluasi program
konservasi sebelumnya. Dalam jurnal dibahas juga terkait dengan kelemahan
metode konservasi Ceratta ceratta sebelumnya
sehingga pada dapat dilakukan perbaikan pada metode konservasi berikutnya.
Diperlihatkan perubahan atau perbaikan yang dilakuakn untuk menghemat biaya,
tenaga dan waktu yang digunakan.
d)
Kaitan Jurnal dengan Ekologi Hewan (Gagasan Ekologi
Hewan untuk Kemajuan Bangsa)
Ekologi hewan penting dipelajari karena
ekologi sendiri mengkaji berbagai masalah yang berkaitan dengan interaksi yang
menentukan distribusi dan kelimpahan organisme terutama hewan. Kajian mata
kuliah ekologi dilatarbelakangi oleh masalah yang terjadi dalam populasi dan
komunitas. Di abad 21 ekologi sangat dibutuhkan karena ekologi dekat dengan
kehidupan kita. Ekologi merupakan ilmu yang sangat berguna ketika kita ingin
mengerti dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh suatu organisme untuk
mempertahankan lingkungan yang berkelanjutan, memperbaiki dan merubah
lingkungan.
Akhir-akhir ini kondisi lingkungan
sangat memperihatinkan terutama berkaitan dengan punahnya beberapa spesies yang
mengakibatkan penurunan biodiversitas. Salah satu spesies yang rentan terhadap
resiko kepunahan adalah sea turtle
(Ceratta ceratta). Ceratta ceratta telah menjadi perhatian dunia karena
jumlah dan kelimpahan penyu tidak sebanyak dahulu kala. Penurunan jumlah penyu
disebabkan karena fragmentasi habitat atau semakin berkurangnya habitat penyu. Ulah
manusia dalam mengeksploitasi penyu (Ceratta
ceratta) semakin menjadi-jadi. Manusia dengan keserakahannya melakukan
perburuan liar terhadap penyu, pemburuan sarang penyu oleh masyarakat yang
mengakibatkan pnyu di dunia semakin berkurang. Selain manusia ancaman bagi
kelangsungan hidup Ceratta ceratta adalah
spesies yang memiliki hubungan interasi sebagai predatornya seperti kepiting,
burung, dan reptilian seperti biawak.
Menurut IUCN red list (2015), Ceratta
ceratta memiliki status konservasi vunarable
sehingga perlu dilakukan suatu tindakan untuk menjaga supaya spesies ini
tidak punah menjadi eksis kembali. Ketika Ceratta
ceratta eksis pada habitatnya maka akan terjadi keseimbangan alam (stabil).
Salah satu usaha tersebut adalah dengan melakukan konservasi habitat Ceratta ceratta. Konservasi dapat dilakukan
dengan melihat bagaimana dia dapat bertahan (adaptasi) dan reproductive success (kesuksesdan dalam berreproduksi) ditinjau dari
aspek fertilitas dan fekunditas.
Menurut ilmu ekologi hewan yang pernah
penulis pelajari, Ceratta ceratta merupakan
hewan yang memiliki kemampuan bergerak aktif untuk berpindah dan termasuk dalam
kategori Density dependent dispersal teruatama
dalam kategori natal dispersal. Natal
dispersal berarti spesies dilahirkan di suatu daerah tertentu kemudian
ketika spesies ini menetas dia akan pergi, berpindah ke tempat lain, kemudian
spesies ini akan kembali ketempat dia dilahirkan untuk melakuakan perkawinan. Ceratta ceratta menganut sistem reproduksi
r strategi. r strategi merupakan hewan yang akan segera melakukan reproduksi
ketika lingkungan di sekitarnya sudah tidak sesuai dengan kondisinya, hewan
dengan strategi r akan lebih dapat bertahan hidup ketika kondisi disekitarnya
berubah-ubah (lebih mudah beradaptasi). Hewan dengan r strategi menganggap
seolah-olah sumber daya alam itu tidak terbatas. Setelah anaknya lahir tidak
dipedulikan oleh induknya (no parental). Ukuran
tubuh keturunan yang menganut r strategi relatif kecil. Hewan dengan r strategi
menghasilkan populasi besar dan diikuti kematian yang besar. Penyu membutuhkan
waktu ±15-50 tahun untuk dapat melakukan perkawinan. Selama masa kawin, penyu
laut jantan menarik perhatian betinanya dengan menggosok-gosokkan kepalanya
atau menggigit leher sang betina. Sang jantan kemudian mengaitkan tubuhnya ke
bagian belakang cangkang si betina. Kemudian ia melipat ekornya yang panjang ke
bawah cangkang betina. Beberapa jantan dapat saling berkompetisi untuk merebut
perhatian si betina. Hanya penyu laut betina saja yang pergi ke pantai untuk
bersarang dan menetaskan telurnya. Penyu laut jantan jarang sekali kembali ke
pantai setelah mereka menetas. Penyu laut pergi untuk menetaskan telurnya ke
pantai dimana mereka dulu dilahirkan. Hal ini merupakan alasan Ceratta ceratta untuk melakukan migrasi
setiap musim kawin, ketika baru saja menetas dari telurnya, dan dalam rangka
mencari makan (foraging). Migrasi Ceratta ceratta dengan memanfaatkan
medan magnet yang ada dibumi untuk mengetahui garis lintang dan garis bujur. Migrasi
penyu dipengaruhi pula oleh suhu dan musim.
Penyu laut mampu menghasilkan banyak
telur yaitu 100 butir bahkan mungkin lebih, penyu laut mengubur telurnya dengan
menggali lubang kemudian menutup dan meratakan kembali lubang menggunakan pasir
supaya tersamarkan dari predator yang mengincar telur penyu laut. Penyu laut
betina membutuhkan waktu 1-3 jam untuk mengeluarkan telurnya. Dari 100 butir
telur yang di tetaskan hanya 1-2 ekor yang bisa bertahan hidup hingga dewasa. Telur yang menetas menghasilkan bayi penyu
laut yang kemudian akan menuju laut luas. Dilaut luaspun banyak predator yang
masih mengincarnya, sehingga untuk bertahan hingga dewasa sangat sulit bagi
penyu dewasa. Predator alami di daratan misalnya kepiting pantai (Ocypode saratan, Coenobita sp), burung dan tikus. Dilaut, predator utama hewan ini
antara lain ikan-ikan besar yang beruaya di lingkungan perairan pantai. Manusia
juga melakuakn eksploitasi terhadap penyu laut yang semakin mengurangi
kesempatan penyu laut bertahan hiudp. Butuh waktu lama dan tenaga yang ekstra
bagi penyu laut untuk reproduksi, dalam bereproduksi membutuhkan waktu lama,
hanya sedikit yang mampu bertahan.
Penyu hidup di dua habitat daratan dan
lautan. Ketika jumlah penyu rentan terhadap kepunahan usaha konservasi terhadap
habitat Ceratta ceratta perlu
dilakukan. Jumlah penyu saat ini mulai berkurang sehingga perlu adanya langkah
untuk mempertahankan supaya Ceratta
ceratta tetap dapat hidup dengan baik sehingga keseimbangan ekosistem
tercapai.
Perlu dilakukan konservasi habitat penyu
laut. Upaya konservasi dan perlindungan sebaiknya tidak hanya tertulis dalam
undang-undang atau hitam di atas putih, tetapi perlu ditekankan kea rah praktek
pemeliharaan yang rill guna menjaga kelangsungan hidup dan lingkungan alami
penyu laut. Upaya konservasi perlu dilakukan dengan mengadakan upaya manajemen
suatu kawasan perteluran penyu laut dan melakukan usaha konservasi di
daerah-daerah yang menjadi jalur migrasi dari penyu laut dalam mencari makan. Perlu
adanya penegakan hukum terkait dengan perburuan satwa illegal, eksploitasi
satwa, dan hukuman bagi semua orang ataupun organisasi yang melakukan
perdagangan produk/hasil yang berasal dari penyu, baik itu telur, daging maupun
cangkangnya.
Saya sekalu mahasiswa mengajak mahasiswa untuk
membantu melestarikan spesies penyu laut dengan tidak mengkonsumsi maknan yang
berasal dari penyu laut, tidak melakukan eksploitasi penyu laut, tidak
mencemari lingkungan pantai yang merupakan habitat penyu laut untuk meletakan
telurnya supaya tidak menyebabkan kematian bagi penyu laut, turut menjaga kesehatan
terumbu karang yang merupakan habitat penyu laut, dan mendukung adanya program
konservasi penyu laut. Negara luar mengembangkan berbagai metode konservasi (khususnya
penyu laut) dalam rangka memperbaiki ekosistem yang ada baik dari segi abiotik
maupun biotiknya. Kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya terus belajar supaya
tidak tertinggal dengan kemajuan yang ada. Dengan ikut memperhatikan, menjaga
dan melestarikan penyu laut, kita turut membantu mempertahankan keanekaragaman
yang ada di Indonesia, karena Indonesia merupakan Negara megabiodiversitas.
Dengan keanekaragaman yang tinggi maka keseimbangan alam menjadi lebih baik dan
stabil.




Komentar
Posting Komentar